Thursday, June 24, 2010
PTT
apaan sih PTT itu..?
Seorang klien sedang mempersiapkan hari bahagianya, kebetulan aku yang membantunya.
Dari semua persiapan, dan sesuai dengan pengalaman selama ini, mempersiapkan undangan adalah hal yang paling menyita ruang otak dan pikiran, sehingga terkadang aku harus turun tangan langsung mengatasi persoalan ini. Contoh undangan sudah dipegang, dibawa ke tempat undangan yang di sudah di incar di sebuah pasar di bilangan Jakarta Selatan. Begitu tiba di tempatnya, mungkin banyak yang dilihat contoh-contoh undangan yang sudah pernah di produksi tempat undangan tersebut. Apa yang terjadi? ditempat tersebut konsep pun berubah.. OMG! Tapi kepuasan klien adalah di atas segalanya. Berubahlah konsep yang sudah diangankan. Itu belum selesai. Bentuk ucapan terimakasih yang tadinya berbentuk handuk yang di bentuk berbagai macam rupa pun terpaksa mengalami perubahan konsep ditempat yang sama. Karena melihat contoh block note yang dikemas dalam sebuah kotak, maka di waktu yang bersamaan diputuskanlah untuk menggunakan kotak tersebut sebagai ucapan terimakasih.
Wooww..
mungkin banyak dari kita semua juga mengalami hal yang sama. Apa yang sudah di konsep di awal bisa berubah dengan cepat begitu melihat yang lebih bagus. Gak apa apa juga sih, selama masih bisa terakomodir. Bagaimana kalo out of expectation? diluar budget misalnya, atau ternyata ga nyambung dengan the whole package plan? mesti rombak sana sini deh.
so, tetapkanlah pendirian. Belajar untuk mempertanggungjawabkan konsep, karena terkadang kita memang menginginkan banyak hal, tapi belum tentu sesuai kebutuhan.
Apa sih PTT itu?
Pendirian Tidak Tetap :)
Seorang klien sedang mempersiapkan hari bahagianya, kebetulan aku yang membantunya.
Dari semua persiapan, dan sesuai dengan pengalaman selama ini, mempersiapkan undangan adalah hal yang paling menyita ruang otak dan pikiran, sehingga terkadang aku harus turun tangan langsung mengatasi persoalan ini. Contoh undangan sudah dipegang, dibawa ke tempat undangan yang di sudah di incar di sebuah pasar di bilangan Jakarta Selatan. Begitu tiba di tempatnya, mungkin banyak yang dilihat contoh-contoh undangan yang sudah pernah di produksi tempat undangan tersebut. Apa yang terjadi? ditempat tersebut konsep pun berubah.. OMG! Tapi kepuasan klien adalah di atas segalanya. Berubahlah konsep yang sudah diangankan. Itu belum selesai. Bentuk ucapan terimakasih yang tadinya berbentuk handuk yang di bentuk berbagai macam rupa pun terpaksa mengalami perubahan konsep ditempat yang sama. Karena melihat contoh block note yang dikemas dalam sebuah kotak, maka di waktu yang bersamaan diputuskanlah untuk menggunakan kotak tersebut sebagai ucapan terimakasih.
Wooww..
mungkin banyak dari kita semua juga mengalami hal yang sama. Apa yang sudah di konsep di awal bisa berubah dengan cepat begitu melihat yang lebih bagus. Gak apa apa juga sih, selama masih bisa terakomodir. Bagaimana kalo out of expectation? diluar budget misalnya, atau ternyata ga nyambung dengan the whole package plan? mesti rombak sana sini deh.
so, tetapkanlah pendirian. Belajar untuk mempertanggungjawabkan konsep, karena terkadang kita memang menginginkan banyak hal, tapi belum tentu sesuai kebutuhan.
Apa sih PTT itu?
Pendirian Tidak Tetap :)
Holyland ,The Journey
Hari pertama
Setelah kurang lebih 8 jam direct flight Jakarta-Dubai, mendaratlah burung besi Emirates 5.15am waktu setempat. Kemudian setelah menunggu kurang lebih 2,5 jam untuk kami melanjutkan penerbangan menuju Amman, Jordania. Tiba di Queen Alia International Airport jam 9.50am waktu setempat tgl 16 Maret 2010.
Hari ke 2
Setelah melewati proses imigrasi, rombongan melakukan perjalanan pertama menuju Gunung Nebo, tempat Nabi Musa terakhir diperlihatkan oleh Tuhan tanah yang dijanjikan Tuhan. (Ul 34)
Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan makan siang di sebuah chinese restoran, masih di Amman. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Allen By, perbatasan antara Jordan-Israel. Disini mental dan kekuatan benar-benar di uji. Setelah kepenatan yang begitu tinggi masih harus tertahan di perbatasan dengan alasan yang tidak informatif hampir selama 6 jam akhirnya berhasil juga rombongan memasuki Israel. Di perbatasan kami bertemu local guide Murad dan driver Basir. Kami langsung di antar menuju Jerusalem Gate Hotel untuk beristirahat.
Hari ke 3
Pagi hari pertama di Jerusalem, kami memulai perjalanan ke Bukit Zaitun. Disana kami mengunjungi Chapel of Ascencion (Kis 1: 6-11) tempat Tuhan Yesus terangkat ke surga. Kemudian menuju Pater Noster tempat Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami (Mat 6) dan dengan melalui Jalan Minggu Palm kami menuju Dominus Flevit tempat Tuhan Yesus menangisi kota Jerusalem. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Taman Getsemani (Mat 26: 36-34) , tempat Tuhan Yesus mengajak murid-murid berdoa malam sebelum Ia ditangkap.
Setelah itu dengan menggunakan bus rombongan menuju Last Supper Room tempat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan makan malam terakhir, Memorial Kubur Raja Daud, St Pieter Caligantu tempat Petrus menyangkal Tuhan Yesus 3 kali sebelum ayam berkokok, dan juga mengunjungi rumah Imam Kayafas, serta penjara bawah tanah.
Perjalanan dilanjutkan kembali dengan bus menuju Betlehem, sebuah kota yang kini di duduki Palestina. Kami melewati check point dengan menunjukkan paspor. Seorang petugas naik untuk memeriksa satu persatu. Di Betlehem kami makan siang di sebuah restoran Mandarin. Kemudian kami langsung menuju Pondok Gembala tempat para gembala menerima kabar gembira. Tidak jauh dari pondok gembala, kami menuju Gereja Nativity tempat lahirnya Tuhan Yesus. Puji Tuhan, hari itu kami di informasikan tidak perlu antri terlalu panjang untuk memasuki wilayah tersebut, sehingga dengan pintu masuk gereja yang pendek rombongan kami tidak kesulitan memasuki gereja tersebut. Didalamnya kami punya waktu yang sangat luang untuk mengambil gambar di depan Bintang Daud dan palungan tempat Yesus lahir. Waktupun berlalu, hari itu kami tutup dengan mengunjungi sebuah toko souvenir bergaransi di Betlehem. Kembali ke hotel untuk beristirahat.
Hari ke 4
Pagi hari kami menuju kota tua Jerusalem dengan berjalan di lorong pasar. Perjalanan kami dimulai dari Gerbang Stefanus, kemudian menuju kolam Bethesda, dari sana kami menuju Gereja St. Anna tempat Bunda Maria di lahirkan. Gereja ini memiliki akustik yang sangat baik, sehingga rombongan kami pun mencoba membuktikan dengan menyanyikan sebuah lagu ‘kami memuji kebesaranMu’.
Kemudian dengan berjalan kaki kami menjalani Via Dolorosa (Jalan kesengsaraan) dengan bergantian memanggul salib yang sudah di siapkan. Kami mulai perjalanan 14 stasi melalui lorong-lorong yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi pasar, sehingga disini harus sangat hati-hati sekali, grup tidak boleh berpisah, karena bila tertinggal dapat tersasar karena lorong-lorongnya sangat mirip sekali. Puji Tuhan rombongan kami aman menjalani jalan kesengsaraan dari mulai stasi pertama sampai dengan stasi terakhir di Golgota (Calvary).
Selesai menjalani jalan kesengsaraan kami makan siang kami mampir sebentar di komplek Gedung Dewan (semacam DPR) yang di depannya terdapat tugu Menorah (tujuh kaki dian) persembahan kerajaan Inggris. Perjalanan dilanjutkan menuju Garden Tomb, sebuah taman tempat kubur Yesus. Di dekat tempat ini juga di yakini sebagian orang adalah bukit tengkorak. Dimana di bawah bukit itu yang sekarang menjadi tempat parkir bus adalah tempat dimana Yesus di paku di kayu salib sebelum salib itu di pancang di bukit. Di Garden Tomb kami melakukan perjamuan kudus yang di pimpin pembimbing rohani yang di bawa dari Jakarta. Karena hari semakin sore, ditambah sedikit gerimis, cuaca pun menjadi bertambah dingin. Selesai perjamuan, kami kembali menuju ke hotel untuk beristirahat sejenak.
Setelah makan malam, perjalanan masih berlanjut ke Tembok Ratapan dan Western Wall .
Hari ke 5
Pagi ini kami meninggalkan Jerusalem menuju Tiberias. Koper besar pun sudah ikut serta dalam bus. Dalam perjalanan kami melewati kota Haifa, sebuah kota pelabuhan yang cantik dan bersih untuk mengunjungi Gereja Stella Maris dan Taman Baha’i. Makan siang di kota Haifa.
Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju kota Nazareth untuk mengunjungi Gereja Announciation tempat Bunda Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Tabor tempat Tuhan Yesus dipermuliakan di atas bukit dengan di apit oleh Nabi Musa dan Nabi Elia. Dari bukit tabor kita bisa melihat sebuh lembah yang cantik yang dinamakan Harmagedon. Kemudian sore itu kami menuju Cana, tempat Tuhan Yesus mengadakan mujizat pertama yaitu mengubah air menjadi anggur pada sebuah perjamuan kawin. Malam itu kami masuk ke Tiberias Club Hotel untuk bermalam.
Hari ke 6
Hari ini kami menuju Gunung Hermon dengan menggunakan cable car. Biasanya bila di musim dingin sekitar bulan Januari-Februari salju akan menyelimuti seluruh bukit. Tapi rupanya pada akhir bulan Maret pun kami masih diijinkan Tuhan melihat sedikit sisa salju. Gunung Hermon adalah gunung tertinggi di Israel di daerah dataran tinggi Golan. Sehingga Daud pun dalam Mazmur 133 munggunakan nama gunung hermon untuk nasihat hidup rukun.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Bukit Sabda Bahagia (Mount Beatitudes) tempat Tuhan Yesus mengajarkan kotbah di bukit dan mengucapkan 8 Sabda Bahagia. Dari situ rombongan menuju Tabgha tempat Tuhan Yesus mengubah 5 roti dan 2 ikan. Tidak jauh dari tempat itu, kami menuju Danau Galilea tempat Tuhan Yesus berjalan diatas air (Mat 14:22). Perjalanan di lanjutkan ke St. Pieter Primacy tempat pengutusan Petrus (Mat 16.18). Berlanjut rombongan kami menuju Capernaum (Mat 8 : 5-13)
Siang itu kami makan di restoran Marina Sunrise, sebuah restoran di sisi danau galilea yang menyajikan ikan petrus. Selesai makan siang kami menuju Sungai Yordan tempat Tuhan Yesus di baptis. Sebenernya lokasi yang kami datangi bukanlah lokasi sebenarnya, tetapi lokasi itu adalah lokasi paling dekat yang bisa dijadikan tempat kunjungan, karena lokasi asli nya berada di Negara Jordania. Setelah dari sungai Yordan, kami kembali menuju danau galilea untuk berlayar sekitar 45menit.
Hari ke 7
Hari ini kami meninggalkan Tiberias menuju Eilat yang jarak tempuhnya sekitar 7 jam, tetapi dalam perjalanan kami mengungjungi beberapa tempat terlebih dahulu. Perhentian pertama kami adalah Kota Jericho, kota yang hancur karena puji-pujian Yosua. Disana kami melihat pohon Ara yang di panjat Zakheus untuk melihat Tuhan Yesus ketika di Jericho (Luk 19). Kemudian kami singgah di kaki Bukit Pencobaan, tempat Tuhan Yesus di cobia iblis setelah berpuasa 40 hari 40 malam. Setelah makan siang dan sedikit berbelanja di satu tempat, kami singgah lagi di mata air Elisa tempat Elisa menyehatkan mata air yang tidak bisa di minum sehingga tidak ada lagi kematian dan keguguran bayi di masa itu ( II Raj 2: 19).
Perjalanan melalui padang gurun kembali kami lalui, persinggahan berikutnya adalah Qumran, tempat gulungan pertama kitab suci di temukan. Kondisi disana saat itu luar biasa panas dan terik, kami melihat gua gua tempat kitab suci pernah di sembunyikan di dalam gunung batu.
Perjalanan kami berlanjut menuju laut mati (Dead Sea). Laut ini berada 417 meter di bawah permukaan laut, dengan kadar garam yang sangat tinggi, sehingga perbedaan berat jenis air ini mengakibatkan setiap orang yang berenang tidak akan tenggelam. Tidak ada mahluk hidup yang bisa hidup di dalamnya, bahkan pohon di pinggir laut mati pun terlihat hanya ranting saja. Kami pun berenang sebentar di laut mati. Setelah sore tiba, kami harus terus melanjutkan perjalanan menuju kota Eilat. Setelah melewati Sunset di gurun kami masih singgah sebentar di Yotvata untuk meluruskan kaki dan sedikit berbelanja produk susu, karena di tempat ini terdapat peternakan sapi.
Kami tiba di Eilat sekitar pukul 7 malam, kami disarankan untuk bongkar koper besar dan memisahkan pakaian yang akan di gunakan untuk naik ke gunung Sinai keesokan harinya ke dalam travel bag yang di telah disediakan, sebab di penginapan berikutnya koper besar tidak akan turun dari bus. Setelah pembagian kamar, kami makan malam dan istirahat.
Hari ke 8
Hari ini kami akan masuk Mesir. Pagi hari kami berhenti sejenak di Laut Merah, tempat Musa membelah laut agar bangsa Israel bisa menyeberang laut merah. Setelah itu kami mengunjungi Eilat Stone Mines, tempat pembuatan perhiasan terkenal di Israel. Di Eilat ini kami berpisah dengan Murad dan Basir yang selama di Israel sudah menemani perjalanan kami. Murad local guide kami adalah seorang Master Arkeolog yang sangat menguasai setiap tempat yang dia berikan kepada kami, sedangkan Basir ternyata adalah anak pemilik perusahaan bus yang kami pakai selama di Israel, Puji Tuhan, kami diberikan orang-orang terbaik selama kami melakukan perjalanan wisata ziarah ini. Selamat tinggal Israel, kami akan memasuki Mesir.
Dari Eilat ke Taba border hanya memakan waktu 10 menit. Tapi perbatasan antara Israel-Mesir ini lumayan panjang, tanpa porter, kami di haruskan membawa sendiri koper besar dan kecil untuk masuk wilayah Mesir, lumayan repot juga di tambah matahari yang sangat terik
Setelah urusan imigrasi selesai, berbeda dengan masuk Israel, di perbatasan ini urusan administrasi imigrasi tidak terlalu repot, kami di jemput local guide setempat Sam dan Ramy. Sam adalah guide untuk yang naik gunung Sinai, sedangkan Ramy adalah local guide utk city tour. Perjalanan menuju St. Chaterine masih akan di tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan. Tapi kami mampir dulu untuk makan siang Nuweiba. Sepanjang mata memandang hanya gurun dan gunung batu pemandangannya. Panas dan gersang. Kami tiba di St. Catherine masih agak sore sebenarnya, jadi masih bisa menikmati satu-satu nya hotel bintang lima di kaki gunung Sinai, yang bernama Morgenland Hotel.
Di hotel ini ada beberapa toko souvenir yang terletak di lobi penerimaan, dan mereka dinamakan hotel mal seru banget. Setelah kami masuk kamar, acara bebas, tapi gak bisa kemana mana. Akhirnya kami hanya kumpul-kumpul ngobrol di hotel mal nya, memang tidak semuanya, karena yang mau naik gunung Sinai sangat di harapkan untuk istirahat secepatnya, karena morning call akan di lakukan jam 00.30.
Hari ke 9
Sebelum jam 00.30, sebagian dari kami sudah terbangun, o iya, karena makanan disini kurang pas di lidah dan di otak, sehingga persediaan makanan instan yang sudah disiapkan dari Jakarta pun akhirnya bisa di garap satu persatu.. lumayan untuk menghangatkan badan. Persiapan naik gunung pun mulai dilakukan. Dari 35 orang peserta tour, hanya 17 orang yang siap untuk mendaki gunung, termasuk diriku . Sebelumnya kami memang sudah di briefing bahwa perjalanan mendaki 2/3 bagian akan menggunakan unta, dan 1/3 bagian di daki sendiri. Tepat jam 1 dini hari kami berangkat dari hotel menuju stasiun unta yang di bawah, setengah jam kemudian kami mulai menaiki unta masing-masing dengan perasaan gak karuan. Perjalanan dengan unta kami tempuh kurang lebih satu setengah jam. Peserta terakhir grup kami tiba di stasiun unta yang di atas kurang lebih jam 3. Setelah semua kumpul, kami bersama-sama mendaki puncak gunung yang kurang lebih 750 anak tangga sisa nya. Gampang.?!?! Ohhh tidak.. jangan salah sangka, ternyata tangga yang di maksud adalah tangga alami yang jaraknya tidak sama satu sama lain, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Tidak ada pegangan tiang di pinggir nya, jadi harus sangat hati-hati sekali karena di pinggir kami bisa saja ada jurang.. Awalnya, masih belum terasa berat, tapi setelah ketemu kedai pertama, beberapa di antara kami ada yang mau menyerah, tapi kami saling menguatkan dan menyemangati, dan akhirnya dengan di bantu dua helper, kami semua lengkap bisa sampai di puncak Gunung Sinai, tempat Nabi Musa menerima dua loh batu berisi hukum taurat dari Tuhan. Perjalanan kami tempuh kurang lebih satu setengah jam. Puji Tuhan, pengalaman luar biasa, yang bila di pikirkan menggunakan akal, mungkin aku gak sanggup menjalaninya. Di puncak kami menaikkan nyanyian dan puji-pujian, selain mengucap syukur, bisa menghalau dingin yang mencapai -4 derajat. Kami tidak lama berada di atas, setelah berdoa, kami harus mulai beranjak turun, karena akan melihat sunrise dari lokasi yang agak dibawah sejalan dengan jalur turun. Perlahan kami mulai turun gunung, setengah jam kemudian kami bisa melihat matahari terbit yang luar biasa indah. Setelah mengabadikan momen kami terus turun gunung, dan tibalah di stasiun unta bagian atas, kami memang tidak disarankan naik unta lagi, karena rasanya tidak nyaman. Tapi yang cukup mengagetkan adalah jalur unta yang rupanya tadi kami lalui adalah jurang di kanan kiri nya.. tidak terbayang bila aku di suruh naik unta jam 7 pagi, pasti udah berfikir ulang Akhirnya kami tiba di Hotel kembali jam 8.15, kami disuruh langsung mandi dan berbenah agar seluruh rombongan bisa melanjutkan perjalanan ke Cairo.
[Satu hal khusus pada perjalanan Gunung Sinai ini, aku pribadi merasakan, dalam perjalanan hidup aku tidak melihat apa yang ada di depan kita karena masih gelap, tapi aku terus berjalan, percaya pada Penuntun yang sudah tau akan seperti apa perjalanan hidup ini. Dan dalam perjalanan hidup ada saja saat-saat hampir menyerah, kita tengok ke belakang, tinggal kenangan, tengok ke depan, masih belum terlihat. Akhirnya kita tengok persekutuan kita, saling bantu, saling memberi semangat, sampai bisa mencapai apa yang di tuju bersama]
Sekitar jam 9.15 kami semua sudah berada di bus dalam perjalanan menuju Cairo dengan jarak tempuh kurang lebih 560km atau 6-7 jam perjalanan. Sudah bisa di tebak, 17 orang pendaki gunung begitu bertemu dengan posisi pas, langsung tidur tanpa basa basi. Yang aku ingat sebelum tertidur adalah gurun dan gurun, jadi emang nikmat banget tidurnya
Kami sempat berhenti beberapa kali, tapi yang aku ingat hanya pada saat di Mara dan makan siang. Setelah itu semua rombongan sudah pada kesadaran penuh, kami melanjutkan perjalanan kembali, sampai akhirnya kami memasuki kawasan terusan Suez yang menghubungkan Mesir bagian Asia dan Mesir bagian Afrika. Satu jam kemudian kami memasuki kota Cairo. Begitu masuk kota, kemacetan langsung menghadang, ternyata ada fakta yang mengatakan Cairo adalah kota crowded kedua di dunia.
Di Cairo kami langsung mengunjungi Gereja Samaan, gereja yang dipahat di sebuah gunung. Setelah itu rombongan langsung menuju sungai nil untuk makan malam sambil berlayar.
Hari ke 10
Hari terakhir di Cairo ini kami mengunjungi Pyramids dan Sphinx yang juga merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Kemudian kami mampir ke sebuah toko parfum Siwa yang terkenal di Mesir. Setelah itu kami makan siang sambil beberapa peserta ikut berperan serta dalam pertunjukkan tari yang ditampilkan oleh restoran tersebut. Setelah makan siang, perjalanan terakhir kami adalah old Cairo dimana terdapat Hanging Church, Gereja Abu Sirga dan St. Sargius tempat Tuhan Yesus, Yusuf dan Maria pernah tinggal. Terakhir kami mengunjungi Ben Ezra Synagoge. Sayangnya beberapa tempat di Old Cairo tidak boleh di abadikan baik lewat photo maupun video. Setelah itu sekitar jam 4 kami menuju bandara di Cairo untuk terbang menuju Dubai pukul 19.15pm waktu setempat.
Hari ke 11
Tiba di Dubai jam 00.25am waktu setempat untuk transit, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta pukul 4.40am waktu setempat. Jam 16.00WIB tiba di Bandara Soekarno Hatta dengan selamat, sehat dan tidak kekurangan suatu apa.
Puji Tuhan, akhirnya seluruh rangkaian perjalanan berjalan dengan lancar, hampir tidak ada halangan sama sekali, semua peserta tour sehat mulai dari berangkat sampai kembali pulang ke Indonesia lagi. Semoga kisah perjalanan ini boleh menjadi berkat buat teman dan kerabat yang membacanya. Tuhan memberkati kita semua.
[Maret 2010]
Subscribe to:
Posts (Atom)